MEDIAKASASI | KAB BANDUNG-- Di tengah gempuran bahasa gaul dan bahasa asing, puluhan siswa SD di Kutawaringin justru berlomba-lomba menjadi penjaga bahasa ibu.
Satker Dinas Pendidikan Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, sukses menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 pada Rabu (17/9/2026) di SDN Ciseah. Festival ini bukan sekadar lomba, melainkan gerakan nyata program Revitalisasi Bahasa Daerah.
Ketua Pelaksana FTBI Kecamatan Kutawaringin, Iwan Fainaka, S.Pd., menegaskan FTBI adalah ikhtiar penting untuk menjaga jati diri budaya Sunda.
"Dasar dilaksanakan kegiatan FTBI adalah sebagai program revitalisasi bahasa daerah. Tujuannya jelas: memelihara, membudayakan, dan melestarikan bahasa, aksara, serta sastra Sunda. Selain itu, ini menjadi wadah menggali bakat dan kreativitas siswa SD khususnya di wilayah Kutawaringin, sekaligus mempersiapkan diri untuk bertanding ke tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional," ujar Iwan saat membuka acara.
152 Tunas Bahasa Ibu Unjuk Gigi
Antusiasme peserta luar biasa. Sebanyak 152 siswa dari berbagai SD se-Kecamatan Kutawaringin ambil bagian dalam 7 cabang Pasanggiri yang dilombakan seperti :
1. Ngadongeng (Bercerita) - 23 peserta
2. Biantara (Pidato Bahasa Sunda) - 24 peserta
3. Maca Sajak (Membaca Puisi Sunda) - 32 peserta
4. Nembang Pupuh (Menyanyi Lagu Tradisi Sunda) - 25 peserta
5. Maca Nulis Aksara Sunda - 16 peserta
6. Ngarang Carita Pondok (Menulis Cerpen Sunda) - 16 peserta
7. Ngabodor Sorangan (Komedi Tunggal Berbahasa Sunda) - 16 peserta.
Suasana SDN Ciseah hari itu penuh warna. Terdengar merdu lantunan pupuh, tawa riang dari aksi ngabodor, hingga khidmatnya peserta yang menulis aksara Sunda kuno yang hampir terlupakan.
Untuk menjamin objektivitas dan kualitas penilaian, panitia mendatangkan dewan juri profesional di bidang bahasa dan sastra Sunda.
Para juara terbaik dari tingkat kecamatan ini tidak berhenti di sini. Mereka akan menjadi duta Kutawaringin untuk berlaga di tingkat Kabupaten Bandung yang akan digelar pada 23 September 2026 mendatang di SDN Cipagalo, Bojongsoang.
FTBI membuktikan, pelestarian bahasa daerah tidak harus kaku dan membosankan. Dengan pendekatan yang menyenangkan, generasi muda justru bangga dan cinta menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Dari Kutawaringin, tunas-tunas penjaga bahasa ibu itu kini mulai tumbuh.
Penulis : Iman