PGRI Kabupaten Bandung: Benteng Terakhir Perjuangan Guru Honorer Menuju Kesejahteraan

GINDO
GINDO Rabu, 16 September 2026 - 22:56 WIB
PGRI Kabupaten Bandung: Benteng Terakhir Perjuangan Guru Honorer Menuju Kesejahteraan
Jati diri yang kembali ditegaskan PGRI Kabupaten Bandung di bawah kepemimpinan Ketua Masa Bakti 2025–2030, H. Yusup Salim, S.Pd.I., M.Pd.

ADVERTORIAL


MEDIAKASASI -- DI BALIK seragam PGRI yang rapi dan gedung sekretariat yang berdiri di Jl. Terusan Kopo Katapang KM 13,5 No. 206, Pangauban, ada denyut perjuangan yang tak pernah padam.

Jika pada 1945 PGRI lahir dari kobaran revolusi fisik untuk mempertahankan NKRI, hari ini medan perangnya telah bergeser. Bukan lagi melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan ketidakadilan yang membiarkan guru honorer mengajar dengan perut lapar dan hati cemas akan masa depan.

Itulah jati diri yang kembali ditegaskan PGRI Kabupaten Bandung di bawah kepemimpinan Ketua Masa Bakti 2025–2030, H. Yusup Salim, S.Pd.I., M.Pd.

"PGRI bukan hanya mengurusi administrasi guru, tapi adalah organisasi perjuangan. Perjuangan kami hari ini adalah memastikan tidak ada lagi guru honorer yang mengajar dengan perut lapar dan hati cemas akan masa depannya," tegas Yusup Salim.

Tiga Jati Diri, Satu Fokus yang Tajam

PGRI sejatinya memiliki tiga wajah dalam satu tubuh:

1. Organisasi Profesi, yang membentuk guru yang bermutu dan melek digital melalui Smart Learning and Character Center (SLCC).

2. Organisasi Perjuangan, yang menjadi pembela hak dan keadilan hukum bagi guru saat mereka terkriminalisasi atau terpinggirkan.

3. Organisasi Ketenagakerjaan, yang berdiri sebagai serikat pekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan.

Dan hari ini, PGRI Kabupaten Bandung menaruh perhatian paling tajam pada wajah ketiga itu.

Kemenangan besar di tingkat nasional sudah diraih. PGRI adalah garda depan yang mengawal lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen, serta mengawal amanat anggaran pendidikan 20% dari APBN. Kini, kemenangan itu harus dirasakan hingga ke level paling bawah, di ruang-ruang kelas di pelosok Kabupaten Bandung.

Ironi masih nyata di lapangan. Kita masih menemukan guru honorer yang sudah belasan, bahkan puluhan tahun mengabdi menjadi pelita di tengah keterbatasan, namun upah yang diterima jauh dari kata layak dan statusnya masih menggantung tanpa kepastian.

"Ketika kita melihat seorang guru honorer di daerah terpencil tersenyum menyambut muridnya, di sanalah detak jantung PGRI bekerja. Tugas kami adalah mengubah senyuman ikhlas itu menjadi senyum yang sejahtera," ujar Yusup.

Dari Advokasi Hingga Silaturahmi

Perjuangan ini tidak berhenti di atas podium. Di sekretariatnya, PGRI Kabupaten Bandung membuka pintu pengaduan selebar-lebarnya.

Setiap laporan, mulai dari keterlambatan honor, ketidakjelasan status PPPK, hingga guru yang tersandung masalah hukum, menjadi agenda serius yang dikawal langsung.

Menariknya, Yusup Salim memilih jalan yang tidak konfrontatif. Ia membangun perjuangan dengan prinsip kolaboratif.

Ia merangkul media sebagai mitra perjuangan, mengajak dialog terbuka saat terjadi miskomunikasi antara wartawan dengan guru dan kepala sekolah. 

Ia juga membangun sinergi solid dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung di bawah kepemimpinan Asep Kusumah, S.Sos., M.Si.

"Kita harus menyiapkan segala aspek untuk berbenah, tentunya yang harus kita dahulukan adalah aspek silaturahmi atau dalam konsep Islam Hablumminannas, hubungan baik antar sesama manusia," katanya.

Inilah yang membedakan PGRI Kabupaten Bandung: berjuang dengan keras, tapi bergerak dengan santun.

Sinergi untuk Fondasi: Kolaborasi dengan Bunda PAUD

Perjuangan kesejahteraan tidak melupakan kualitas. Di bawah komando Yusup Salim, PGRI Kabupaten Bandung juga menggerakkan kolaborasi strategis bersama Bunda PAUD Kabupaten Bandung.

Bunda PAUD diposisikan sebagai tokoh sentral penggerak layanan Pendidikan Anak Usia Dini yang holistik dan integratif. Kolaborasi ini diperkuat bersama organisasi afiliasi seperti Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) dan didukung penuh oleh Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD serta Dinas Pendidikan.

Tujuannya satu: memperkuat fondasi pendidikan karakter anak sejak usia dini, karena Indonesia Emas tidak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Pada akhirnya, pesan PGRI Kabupaten Bandung sangat jelas. Dengan semangat "Guru Bermutu Indonesia Maju Bersama PGRI Kabupaten Bandung Wujudkan Indonesia Emas", mereka mengingatkan satu hal: Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai jika fondasinya, yaitu guru honorer masih dibiarkan rapuh.

Dari papan tulis hitam berkapur hingga layar digital interaktif di era modern, satu hal yang terus diperjuangkan PGRI tetap sama: martabat guru. Dan hari ini, wujud nyata dari martabat itu adalah kesejahteraan guru honorer.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar.

JADWAL
SHOLAT
Jumat, 30 Oktober 2026
Memuat...
  • Imsak--:--
  • Subuh--:--
  • Zuhur--:--
  • Ashar--:--
  • Magrib--:--
  • Isya--:--

Sumber : Kementerian Agama RI