Kontemplasi Spiritual
Oleh : Yopiahmad
Mediakasasi-- Ia bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia membawa kita kembali kepada sebuah nama yang selama empat belas abad tidak pernah kehilangan cahaya: Muhammad ﷺ.
Nama yang dilantunkan dalam shalawat.
Nama yang disebut dengan air mata kerinduan.
Nama seorang manusia pilihan yang kehadirannya mengubah cara manusia memandang Tuhan, kehidupan, sesama, bahkan dirinya sendiri.
Namun di tengah peringatan Maulid, ada satu kalimat yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak:
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا
Radhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi-Muhammadin nabiyyan wa rasula.
Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku.
Kalimatnya pendek. Tetapi kandungannya sangat dalam.
Karena ridha bukan sekadar ucapan. Ridha adalah sikap batin yang kemudian melahirkan pilihan hidup.
Ketika kita mengatakan: “Radhitu billahi rabba.” Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku.
Maka kita sedang mengatakan bahwa hidup ini bukan sepenuhnya milik keinginan kita. Ada Allah yang menjadi tujuan, sumber nilai, tempat bergantung, dan tempat kembali.
Kalau benar Allah adalah Rabb kita, mengapa kita masih begitu takut kehilangan dunia?
Mengapa kita terkadang mengorbankan kejujuran demi keuntungan?
Mengapa kita mengejar pujian manusia tetapi lupa mencari ridha Allah?
Mengapa kita gelisah ketika kehilangan jabatan, tetapi tidak gelisah ketika kehilangan kejujuran?
Kemudian kita mengatakan: “Wa bil-islami dina.”
Aku ridha Islam sebagai agamaku.
Berarti kita tidak hanya menerima Islam sebagai identitas, tetapi juga sebagai jalan kehidupan.
Islam bukan hanya nama pada kartu identitas.
Islam bukan hanya masjid, pengajian, pakaian, simbol, atau ritual.
Islam juga adalah kejujuran ketika tidak ada yang melihat.
Amanah ketika memegang kekuasaan.
Adil ketika memiliki kesempatan untuk berlaku zalim.
Rendah hati ketika memiliki kelebihan.
Memaafkan ketika memiliki alasan untuk membalas.
Dan menghadirkan kemaslahatan ketika kita memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.
Lalu kita mengatakan: “Wa bi-Muhammadin nabiyyan wa rasula.”
Aku ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku.
Di sinilah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.
Sebab mengakui Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul bukan sekadar mengagumi sejarah hidupnya.
Ia berarti bersedia belajar dari akhlaknya.
Belajar dari kejujurannya.
Belajar dari kesederhanaannya.
Belajar dari keberaniannya membela yang lemah.
Belajar dari kelembutannya kepada manusia.
Belajar dari kesabarannya menghadapi penghinaan.
Dan belajar dari kemampuannya memaafkan ketika ia memiliki kekuatan untuk membalas.
Maka pertanyaan Maulid bukan hanya: “Apakah kita mencintai Rasulullah? Hampir semua orang akan menjawab: “Ya.”
Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Apakah kehidupan kita mencerminkan cinta itu?”
Kita bershalawat kepada Nabi, tetapi apakah lisan kita masih melukai?
Kita menangisi kisah perjuangannya, tetapi apakah kita masih membiarkan orang lemah berjalan sendirian?
Kita memuji amanahnya, tetapi apakah kita benar-benar amanah ketika memegang kepercayaan?
Kita mengagumi kesederhanaannya, tetapi apakah kita masih menjadikan harta, pangkat, dan kekuasaan sebagai ukuran kemuliaan?
Kita berkata Radhitu bi Muhammadin nabiyyan wa rasula, tetapi apakah kita sungguh rela menjadikan akhlaknya sebagai jalan hidup?
Sebab cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan suara.
Cinta harus menjadi perilaku.
Ia harus tampak dalam cara kita berbicara.
Dalam cara kita memperlakukan orang miskin.
Dalam cara kita memperlakukan bawahan.
Dalam cara kita menggunakan kekuasaan.
Dalam cara kita menghadapi orang yang berbeda.
Dalam cara kita memperlakukan alam.
Dan bahkan dalam cara kita memperlakukan orang yang tidak mampu membalas kebaikan kita.
Maulid dengan demikian bukan sekadar mengenang sebuah kelahiran.
Maulid adalah momentum untuk memeriksa kembali ikrar kita.
Apakah benar kita ridha Allah sebagai Rabb?
Apakah benar kita ridha Islam sebagai agama?
Apakah benar kita ridha Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul?
Sebab jika ketiganya benar-benar hidup dalam hati, maka seharusnya ada sesuatu yang berubah dalam diri kita.
Hati menjadi lebih lembut.
Lisan menjadi lebih terjaga.
Pikiran menjadi lebih jernih.
Tangan menjadi lebih ringan menolong.
Kaki lebih berani berjalan menuju kebenaran.
Dan kehidupan kita perlahan menjadi lebih bermanfaat bagi sesama.
Barangkali inilah hakikat Maulid: Bukan sekadar memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi berusaha melahirkan kembali nilai-nilai kenabian di dalam diri kita.
Kita tidak pernah melihat wajahnya.
Tidak pernah mendengar suaranya secara langsung.
Tidak pernah menggenggam tangannya.
Namun cinta kepadanya tetap hidup melintasi zaman.
Berabad-abad jarak tidak mampu menghapus kerinduan.
Karena itu, ketika kita bershalawat:
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad.
Biarkan shalawat itu tidak hanya keluar dari bibir.
Biarkan ia turun ke hati.
Dari hati turun menjadi sikap.
Dari sikap menjadi perbuatan.
Dan dari perbuatan menjadi akhlak.
Sebab mungkin kelak ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang paling berharga bukanlah seberapa sering kita mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah ﷺ, melainkan seberapa sungguh kita telah berusaha mengikuti jejaknya.
Maka pada Maulid kali ini, mari kita ucapkan perlahan, bukan sekadar sebagai doa, tetapi sebagai ikrar kehidupan:
Radhitu billahi rabba.
Aku ridha Allah sebagai Tuhanku.
Wa bil-islami dina.
Aku ridha Islam sebagai agamaku.
Wa bi-Muhammadin nabiyyan wa rasula.
Aku ridha Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasulku.
Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
Jika benar demikian, sudahkah Allah menjadi tujuan hidupku?
Sudahkah Islam menjadi jalan hidupku?
Dan sudahkah Muhammad ﷺ menjadi teladan dalam akhlakku?
Karena pada akhirnya, Maulid bukan hanya tentang kapan Rasulullah ﷺ dilahirkan.
Maulid adalah tentang kapan nilai-nilai yang beliau bawa lahir kembali dalam diri kita.
Lahir sebagai kejujuran.
Lahir sebagai kasih sayang.
Lahir sebagai keadilan.
Lahir sebagai keberanian membela yang lemah.
Lahir sebagai kesediaan memaafkan.
Dan lahir sebagai pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan manusia.
Telah datang Rasul pilihan. Ia telah membawa cahaya. Tugas kita bukan lagi menunggu cahaya itu datang.
Tugas kita adalah memastikan cahaya itu tetap hidup dalam diri kita.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.
Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti sebagai kerinduan di bibir, tetapi menjadi jalan kehidupan sampai akhir perjalanan.
Radhitu billahi rabba. Wa bil-islami dina. Wa bi-Muhammadin nabiyyan wa rasula.
Aku ridha kepada Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasulku.