MEDIAKASASI | BANDUNG-- Keresahan menyelimuti ribuan guru honorer di Kota Bandung. Sejak awal Januari 2026, sebanyak 3.144 tenaga pendidik belum menerima hak upahnya akibat tersendatnya proses pencairan.
Situasi itu turut dirasakan Muhamad Salman Nasir, guru Pendidikan Agama Islam di SDN 093 Tunas Harapan, Cijerah. Dalam kondisi terhimpit, ia sempat bergantung pada pinjaman dari kepala sekolah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun belakangan, kegelisahan itu mulai mereda. Para guru honorer mengaku lebih tenang setelah Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan komitmen bahwa pembayaran gaji akan diselesaikan dalam waktu dekat dan mulai dicairkan pada Mei 2026.
“Kalau kebutuhan mah pasti besar. Tapi sekarang suasananya agak lebih tenang karena sudah ada pernyataan resmi dari Pak Wali bahwa gaji empat bulan akan segera dibayarkan,” ujar Salman, Selasa (28/4/2026).
Sebelumnya, Salman sempat terbantu oleh pencairan tunjangan profesi guru (TPG) di akhir 2025 sebesar Rp6 juta untuk tiga bulan. Dana itu cukup menopang kebutuhan hingga Februari 2026. Namun memasuki Maret, tekanan mulai terasa lantaran gaji tak kunjung cair, meski anggaran sebesar Rp51 miliar telah disiapkan.
Tak semua guru honorer memiliki keberuntungan serupa. Banyak di antara mereka yang terpaksa mencari penghasilan tambahan, bahkan menjadi pengemudi ojek online untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kalau saya masih bisa pinjam, tapi banyak teman-teman yang harus ngojek untuk bertahan,” kata Salman.
Secara umum, guru honorer di Kota Bandung menerima penghasilan sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per bulan, yang bersumber dari gaji rutin dan TPG yang dicairkan berkala.
Kini, harapan besar tertuju pada percepatan pencairan gaji yang telah tertunda berbulan-bulan. Di sisi lain, para guru juga mendorong adanya peninjauan ulang regulasi terkait Aparatur Sipil Negara (ASN), agar keberadaan tenaga honorer tetap mendapat kepastian hukum di tengah keterbatasan formasi PPPK. ***